Kilas Balik Sosok Jenderal Sudirman
72 tahun sudah Indonesia merdeka. Tentunya kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan fisik maupun intelektual sejumlah tokoh yang akan selalu diabadikan kisahnya. Dari sekian tokoh yang tidak diragukan lagi jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan, tanpa mengurangi rasa respect saya, ada satu tokoh yang sangat saya kagumi dan terinspirasi olehnya. Beliau adalah **Jenderal Besar Raden Sudirman**.
Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh, haruslah kita teruskan. Secara de jure, Indonesia memanglah sudah merdeka. Tetapi secara de facto, menurut saya Indonesia belumlah sepenuhnya merdeka. Lihatlah korupsi yang merajalela di berbagai kalangan, kondisi ekonomi serta kemiskinan, dan yang lainnya.
Pada saat ini, kita semua tahu bahwasanya memperjuangkan kemerdekaan saat ini bukan lah lagi dengan fisik, dalam artian berperang. Melainkan dengan pena. Dengan intelektual.
Bercermin dari kisah Jenderal Sudirman yang telah saya paparkan secara singkat,
Sebagai pribadi sebagai pemuda Indonesia, merasa sangat bertanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan, meneruskan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan berbagai hal-hal yang positif.
Terlebih dengan status saya sebagai mahasiswa, dimana sangat peka dengan ilmu pengetahuan saya bertekad untuk sebisa mungkin berkontribusi untuk negeri ini walaupun tidak langsung dalam Hal yang besar, tetapi dimulai dari hal yang kecil.
Banyak sekali yang dapat dilakukan, seperti, berorganisasi. Dengan berorganisasi, banyak sekali manfaat yang kita dapat, antara lain, kita dapat belajar untuk bekerjasama bersama orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Tidak hanya itu, kita juga akan belajar untuk bermusyawarah, langkah-langkah mengambil keputusan serta bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat.
Hal lain yang juga dapat kita contoh dari sosok Jenderal Sudirman adalah mengajar. Karena dengan mengajar, berarti kita turut mencerdaskan bangsa.
Akhir kata, semoga akan lahir kembali Sudirman-sudirman muda bangsa ini yang akan membawa perubahan bagi negara Indonesia tercinta.
Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh, haruslah kita teruskan. Secara de jure, Indonesia memanglah sudah merdeka. Tetapi secara de facto, menurut saya Indonesia belumlah sepenuhnya merdeka. Lihatlah korupsi yang merajalela di berbagai kalangan, kondisi ekonomi serta kemiskinan, dan yang lainnya.
Pada saat ini, kita semua tahu bahwasanya memperjuangkan kemerdekaan saat ini bukan lah lagi dengan fisik, dalam artian berperang. Melainkan dengan pena. Dengan intelektual.
Bercermin dari kisah Jenderal Sudirman yang telah saya paparkan secara singkat,
Sebagai pribadi sebagai pemuda Indonesia, merasa sangat bertanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan, meneruskan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan berbagai hal-hal yang positif.
Terlebih dengan status saya sebagai mahasiswa, dimana sangat peka dengan ilmu pengetahuan saya bertekad untuk sebisa mungkin berkontribusi untuk negeri ini walaupun tidak langsung dalam Hal yang besar, tetapi dimulai dari hal yang kecil.
Banyak sekali yang dapat dilakukan, seperti, berorganisasi. Dengan berorganisasi, banyak sekali manfaat yang kita dapat, antara lain, kita dapat belajar untuk bekerjasama bersama orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Tidak hanya itu, kita juga akan belajar untuk bermusyawarah, langkah-langkah mengambil keputusan serta bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat.
Hal lain yang juga dapat kita contoh dari sosok Jenderal Sudirman adalah mengajar. Karena dengan mengajar, berarti kita turut mencerdaskan bangsa.
Akhir kata, semoga akan lahir kembali Sudirman-sudirman muda bangsa ini yang akan membawa perubahan bagi negara Indonesia tercinta.
Komentar
Posting Komentar